Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label artikel

Sebuah Ungkapan Untuk Orang Tersayang

Banyak cara untuk mengungkapkan rasa sayang kepada seseorang. Mulai dari sebuah ucapan atau berupa barang. Hampir semua orang melakukan cara itu sebagai bentuk mengungkapkan rasa sayangnya pada seseorang. Tentu saja siapa pun yang akan menerimanya pasti merasa senang, terlebih lagi itu pemberian dari orang yang dianggapnya sepesial. Terkecuali ia mendapatkan suatu hal yang sama-sekali tidak disukai, atau terkesan biasa-biasa saja. Tetapi menurutku itu adalah cara yang kuno dan sudah terlanjur basi. Ya, kalian mungkin akan mengatakan ‘ah bilang saja gak mampu beli’. Yaps, thats right. Memang benar, aku tidak mampu jika itu berupa tas bermerek, perhiasan, tiket liburan, dan barang-barang mahal lainnya. Jika hanya sekadar martabak telor sepesial yang telornya lima mah masih bisa. Perlu dicatat, jika tidak semuanya ungkapan rasa sayang itu harus berupa barang ataupun sesuatu yang mahal. Lalu bagaimana jika kita tidak memiliki uang untuk membeli barang itu? Apakah itu pertanda kita tidak...

Bapak Republik yang Dilupakan

Diburu oleh polisi rahasia di dua benua dan 11 negara, menguasai delapan bahasa (Indonesia, Minang, Belanda, Rusia, Jerman, Inggris, Mandarin, dan Tagalog), memiliki 23 nama samaran, 13 kali di penjara, memiliki lima jenis pekerjaan, 20 tahun di dalam pelarian. Lantas, siapakah dia? Dalam pelajaran sejarah sejak SD sampai SMA, kita mengenal nama-nama seperti Sukarno, Bung Hatta, H. Agus Salim, dan tokoh lainnya. Namun, ada satu nama yang lupa disebutkan dalam pelajaran sejarah kita ini. Sosok revolusioner, seorang penggagas pertama kata Republik Indonesia yang berasal dari Padang. Gigih menentang penjajah cintanya pada negeri tak terbantah, berpikiran visioner dan revolusioner. Namun sayang, karena alasan ideologi namanya tenggelam. Dia adalah Tan Malaka yang bernama asli Sutan Ibrahim, lahir tanggal 2 Juni 1897 di Pandam Gadang, Suliki, Sumatera Barat. Putra dari Rasad Caniago dan Sinah Simabur, dia mendapat gelar semi bangsawan dari ibunya, menjadi Sutan Ibrahim Datuk Tan Ma...

Perang Boer

Part 1 Perang Boer merupakan perang yg terjadi di Afrika Selatan, Anatar Imperium Britania Melawan dua Republik Boer. Yakni Negara Bebas Oranje dan Republik Transvaal, antara abad ke 19 dan awal abad 20. Orang Boer atau Afrikaner merupakan keturunan Kolonis Belanda yang sebagai pioner merambah ke pedalaman Afrika Selatan dan mendirikan Oranje Vrijstaat dan Zuid-Afrikaanse Republiek. Orang Boer Menamai perang ini sebagai perang kemerdekaan. Tokoh nasional Indonesia Ernest Douwes Dekker pernah berpartisipasi pada perang ini di kubu Republik Transvaal. Latar Belakang Perang Boer Pada tahun 1652 perusahaan dagang VOC yg berbasis di Belanda, mendirikan pos dagang di ujung selatan pesisir benua Afrika sebagai lokasi transit antara Belanda dan Kepulauan Indonesia. Pendirian pos dagang tersebut sekaligus menjadi momen awal masuknya imigran-imigran Belanda (Boer). Wilayah yg ditinggali oleh orang-orang Boer dikenal dengan nama Kaapkolonie (Koloni semenanjung cape colony). Sementara...

Hebatnya Lagu Indonesia Raya

 Indonesia kebangsaanku Bangsa dan tanah airku Marilah kita berseru Indonesia bersatu. Begitulah penggalan lirik paling sakral yang membuat jiwa rakyat Indonesia menggelegar saat menyanyikannya. lagu yang diciptakan oleh W.R Supratman ini memiliki makna yang sangat dalam jika benar-benar dihayati. Tak salah jika lagu Indonesia Raya dipilih menjadi lagu kebangsaan Indonesia sampai saat ini. Saya sendiri pernah mengalaminya. Momen itu terjadi pada tahun 2013. Bagi pecinta sepakbola, tahun 2013 merupakan tahun paling emosional yang tidak pernah terlupakan hingga saat ini. Sebab saat itu, timnas usia 19 tahun berhasil menjuarai piala AFF yang kebetulan Indonesia menjadi tuan rumah diajang tersebut. Tentu saja hal itu membuat masyarakat Indonesia bersorak gembira. sebab euforia  juara dalam olahraga sepak bola sudah lama sekali tidak dirasakan oleh masyarakat Indonesia semenjak 20 tahun terakhir. Saya ingat sekali, saat itu di kampung, kakek saya memasang televisi di ter...