Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label puisi

Bicara Kopi

Aku menyeduhnya dengan filosofiku sendiri Setiap butirnya tersemat banyak rasa Malam ini amarahku mendominasi rasa itu Kopi hitam tanpa gula Rasa hambar yang tidak sama sekali enak Begitu orang awam menyebutnya, namun Bagiku tidak, kopi lebih dari itu  Kopi banyak menolongku Sekarang aku sedang dikedai kopi Kata ia yang kuajak bercengkrama "lagi pahit ditambah pahit" Wajar saja, ia hanya tidak tahu Sebenarnya memang begitu cara mengkonsumsi kopi Jika manis, untuk apa susah-susah meraciknya Tinggal buka lalu seduh, selesai. Kopi bukan sekadar minuman Perlu mencintainya untuk mendapatkan rasa terenak Jika tidak menggunakan filosofi, kau akan menilai itu biasa saja. Namun saat kau tahu bagaimana cara mengeksekusinya Aku yakin kau tidak lagi bisa mengelak, kopi bisa mencanduimu.

Malaikat Kecil

Tangisnya adalah suara terakhir yang terucap dari bibir imutnya Mereka baru saja bercanda gurai sore tadi Masih terngiang jelas celotehan khas si kecil kesayangannya itu Terakhir ia hanya menyampaikan “Nanti abis mandi tidur ya” Si kecil terlelap dalam tidur malamnya Ia bermimpi tubuhnya sakit, namun ia kembali tertidur Sang ayah menangis, mendekap erat tubuh anak kesayangannya itu ‘Bangun nak ini ayah, ayo kita main lagi’ Malaikat kecil itu terbangun mengusap air mata Yang jatuh di pipi sang ayah ‘Ayah jangan nangis, dedek udah bangun’ Cuma kata Allah ayah gak bisa lihat dedek lagi.

NADA

Sebutir nada datang menyelimuti malam Alunannya seolah merasuk ke dalam Rongga-rongga kosong di otakku Lebih indah dari nyanyian Burung gereja Di atas pohon sana Mata terpejam, Menjiwai setiap bait liriknya Ini Begitu indah, Seakan menjadi obat paling ampuh Disaat kondisi yang sedang tak baik-baik saja ini

Teruntuk Wanita Paling Spesial

Putaran jam berlalu Matahari kian meredupkan sinarnya Awan mulai menunjukkan pesona jingganya Tak di sangka langit menurunkan air sejuknya Menyegarkan indra penciuman Teringat ibu membuatkan secangkir teh kala dingin hujan turun Ibu, Bagaimana kabarmu Lama kita tak temu Remuk hatiku Mataku menitikan air Saat mendapat pesan Perihal menanyakan Kapan waktu pulangku Ibu, Maafkan segala perilaku Kejadian pada hari, dimana aku memberontak Aku berjanji Akan segera pulang Memeluk ragamu Mencium lembut tanganmu Ibu Ibu Dan Berkata ibu kesekian kalinya Aku rindu rumah Aku rindu masakanmu Aku rindu pelukmu Aku rindu senyummu Ibu, Aku sayang ibu

RINDU

Soal rindu, aku masih paling terbelakang Jika ditanya hal apa yang paling menyebalkan Dengan tegas aku akan mengatakan 'Rindu' Sebab, dia pernah membuatku luka Kau pasti tau bukan, bagaimana rasanya Itu lebih menyiksa dari apa pun Jika sudah begitu, waktu bisa saja menjadi musuh secara tiba-tiba Mereka seperti sedang berkompromi Jelas aku sangat tidak suka Berbeda dengan jumpa yang selalu Menghadirkan bahagia Tetapi jumpa akan terasa biasa jika tidak diawali rindu Kalau begitu aku menyukai keduanya Rindu, maafkan aku

Life Is Better With Friends

Liburan kali ini agaknya sedikit berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Bukan tidak mudik ke kampung halaman, kalau itu memang sudah mejadi tradisi wajib bagiku dan keluarga bahkan sebagian besar orang ‘yang memiliki kampung’. Kali ini aku tidak akan membahas mengenai perjalanan, karena itu sudah terlalu sering saya ceritakan. Jika ada dari kalian yang belum tahu mengenai perjalanan dari ceritaku, itu sama saja dengan pengalaman orang-orang kebanyakan. Hanya saja mungkin kampung kita yang berbeda. Oke, lanjut. Mendekati bulan puasa tiba, teman-teman SMP-ku berencana akan mengadakan buka puasa bersama. Kita semua membahasnya di grup whatsap . Awalnya aku sedikit ragu bisa ikut bukber tahun ini, sebab kepulanganku belum ditentukan kapan. Akhirnya aku pun hanya menyimak pembicaraan mereka dengan sesekali ikut menimbrung, walaupun sekadar memberi emoticon . Dari pembicaraan itu, mereka telah sepakat mengenai waktu dan tempat. Jika tidak salah, bukber akan dilaksanakan saat 15 ha...

Untuk Mereka

Kini bukan hanya para pemerintah yang tak manusiawi Namun juga rakyatnya yang berprilaku tak tahu diri Membuat kegaduhan tanpa aturan  Menimbulkan kerusahan yang tak sedikit pun menguntungkan Lihatlah, koruptor menjijikan itu kini tengah tertawa lepas Menyaksikan kebiadaban kalian di luar sana Yang seolah ingin menegakan keadilan Namun tak sedikitpun kalian menggunakan pikiran Bukan begitu caranya bung… Membakar ban di tengah jalan, sudah tidak zaman Menimbulkan kemacetan apanya yang menguntungkan Kita aktifis berpendidikan, banyak cara tuk tegakan keadilan Biarkan si bajingan itu menikmati hasil rampoknya Lihat saja, sampai kapan mereka akan bahagia Aku pikir tidak akan lama lagi Sesuai naskahnya, besok senin ia akan mati

Goresan Kegelisahan

Sampai kapan kita saling caci maki Konsep keagamaan lahir untuk perdamaian Kenapa malah jadi pertikaian? Atau mungkin kalian kurang baca? Makanya jadi kesetanan? Kalau agama menjadi alat utama tuk lahirkan peperangan Minta izin ke orangtuamu, Jadi atheis sekalian Percaya tidak percaya Muhammad, Yesus, Siddharta Gautama Sedang panik di depan Sang pencipta Menunduk malu, melihat banyak pengikutnya Yang lebih amis dari anjing tak berbulu. -----------------------------------------------------------------------------------------------------  Aku pernah mencintai Indonesia, sampai banyak bicara Pernah berisik dalam perbincangan agama, Menjadi bagian dari para pencari perdebatan Lalu aku memilih usai Bukannya, “menjadi” dan “menikmati” Lebih baik dari “meminta” dan “menghakimi?” Bukannya “menghargai” dan “menjalani” Lebih baik dari “menghardik” dan “sok paham”? Bukannya menjadi teman bicara Lebih baik dari lawan bicara? ...

Teruntuk Wanita Berkerudung Jingga

Selamat senja, wanita berkerudung jingga Sedang apa kau sekarang Yang jelas tidak sedang memikirkanku bukan Itu memang bukan tugasmu, tetapi kewajibanku Wanita berkerudung jingga Aku senang melihatmu dalam diam Jangan menoleh jika sedang kutatap Aku hanya takut kau tidak merasa nyaman Wanita berkerudung jingga Hatiku juga sukar berkata rindu Tidak tahu, sungguh Rindu apa yang selalu memikirkanmu Namun aku senang, kuharap kau juga begitu Wanita berkerudung jingga Aku ingin bertemu ibumu Tapi takut untuk menatapnya Pasti wajahnya tak jauh indahnya sepertimu Wanita berkerudung jingga Sepertinya Guru ngajiku salah Awalnya dulu aku percaya Ia bilang bidadari hanya ada disurga Lantas kau apa? Apakah Allah salah menempatkanmu?