Langsung ke konten utama

Postingan

Hebatnya Lagu Indonesia Raya

 Indonesia kebangsaanku Bangsa dan tanah airku Marilah kita berseru Indonesia bersatu. Begitulah penggalan lirik paling sakral yang membuat jiwa rakyat Indonesia menggelegar saat menyanyikannya. lagu yang diciptakan oleh W.R Supratman ini memiliki makna yang sangat dalam jika benar-benar dihayati. Tak salah jika lagu Indonesia Raya dipilih menjadi lagu kebangsaan Indonesia sampai saat ini. Saya sendiri pernah mengalaminya. Momen itu terjadi pada tahun 2013. Bagi pecinta sepakbola, tahun 2013 merupakan tahun paling emosional yang tidak pernah terlupakan hingga saat ini. Sebab saat itu, timnas usia 19 tahun berhasil menjuarai piala AFF yang kebetulan Indonesia menjadi tuan rumah diajang tersebut. Tentu saja hal itu membuat masyarakat Indonesia bersorak gembira. sebab euforia  juara dalam olahraga sepak bola sudah lama sekali tidak dirasakan oleh masyarakat Indonesia semenjak 20 tahun terakhir. Saya ingat sekali, saat itu di kampung, kakek saya memasang televisi di ter...

NADA

Sebutir nada datang menyelimuti malam Alunannya seolah merasuk ke dalam Rongga-rongga kosong di otakku Lebih indah dari nyanyian Burung gereja Di atas pohon sana Mata terpejam, Menjiwai setiap bait liriknya Ini Begitu indah, Seakan menjadi obat paling ampuh Disaat kondisi yang sedang tak baik-baik saja ini

Teruntuk Wanita Paling Spesial

Putaran jam berlalu Matahari kian meredupkan sinarnya Awan mulai menunjukkan pesona jingganya Tak di sangka langit menurunkan air sejuknya Menyegarkan indra penciuman Teringat ibu membuatkan secangkir teh kala dingin hujan turun Ibu, Bagaimana kabarmu Lama kita tak temu Remuk hatiku Mataku menitikan air Saat mendapat pesan Perihal menanyakan Kapan waktu pulangku Ibu, Maafkan segala perilaku Kejadian pada hari, dimana aku memberontak Aku berjanji Akan segera pulang Memeluk ragamu Mencium lembut tanganmu Ibu Ibu Dan Berkata ibu kesekian kalinya Aku rindu rumah Aku rindu masakanmu Aku rindu pelukmu Aku rindu senyummu Ibu, Aku sayang ibu

RINDU

Soal rindu, aku masih paling terbelakang Jika ditanya hal apa yang paling menyebalkan Dengan tegas aku akan mengatakan 'Rindu' Sebab, dia pernah membuatku luka Kau pasti tau bukan, bagaimana rasanya Itu lebih menyiksa dari apa pun Jika sudah begitu, waktu bisa saja menjadi musuh secara tiba-tiba Mereka seperti sedang berkompromi Jelas aku sangat tidak suka Berbeda dengan jumpa yang selalu Menghadirkan bahagia Tetapi jumpa akan terasa biasa jika tidak diawali rindu Kalau begitu aku menyukai keduanya Rindu, maafkan aku

Life Is Better With Friends

Liburan kali ini agaknya sedikit berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Bukan tidak mudik ke kampung halaman, kalau itu memang sudah mejadi tradisi wajib bagiku dan keluarga bahkan sebagian besar orang ‘yang memiliki kampung’. Kali ini aku tidak akan membahas mengenai perjalanan, karena itu sudah terlalu sering saya ceritakan. Jika ada dari kalian yang belum tahu mengenai perjalanan dari ceritaku, itu sama saja dengan pengalaman orang-orang kebanyakan. Hanya saja mungkin kampung kita yang berbeda. Oke, lanjut. Mendekati bulan puasa tiba, teman-teman SMP-ku berencana akan mengadakan buka puasa bersama. Kita semua membahasnya di grup whatsap . Awalnya aku sedikit ragu bisa ikut bukber tahun ini, sebab kepulanganku belum ditentukan kapan. Akhirnya aku pun hanya menyimak pembicaraan mereka dengan sesekali ikut menimbrung, walaupun sekadar memberi emoticon . Dari pembicaraan itu, mereka telah sepakat mengenai waktu dan tempat. Jika tidak salah, bukber akan dilaksanakan saat 15 ha...

Untuk Mereka

Kini bukan hanya para pemerintah yang tak manusiawi Namun juga rakyatnya yang berprilaku tak tahu diri Membuat kegaduhan tanpa aturan  Menimbulkan kerusahan yang tak sedikit pun menguntungkan Lihatlah, koruptor menjijikan itu kini tengah tertawa lepas Menyaksikan kebiadaban kalian di luar sana Yang seolah ingin menegakan keadilan Namun tak sedikitpun kalian menggunakan pikiran Bukan begitu caranya bung… Membakar ban di tengah jalan, sudah tidak zaman Menimbulkan kemacetan apanya yang menguntungkan Kita aktifis berpendidikan, banyak cara tuk tegakan keadilan Biarkan si bajingan itu menikmati hasil rampoknya Lihat saja, sampai kapan mereka akan bahagia Aku pikir tidak akan lama lagi Sesuai naskahnya, besok senin ia akan mati

Goresan Kegelisahan

Sampai kapan kita saling caci maki Konsep keagamaan lahir untuk perdamaian Kenapa malah jadi pertikaian? Atau mungkin kalian kurang baca? Makanya jadi kesetanan? Kalau agama menjadi alat utama tuk lahirkan peperangan Minta izin ke orangtuamu, Jadi atheis sekalian Percaya tidak percaya Muhammad, Yesus, Siddharta Gautama Sedang panik di depan Sang pencipta Menunduk malu, melihat banyak pengikutnya Yang lebih amis dari anjing tak berbulu. -----------------------------------------------------------------------------------------------------  Aku pernah mencintai Indonesia, sampai banyak bicara Pernah berisik dalam perbincangan agama, Menjadi bagian dari para pencari perdebatan Lalu aku memilih usai Bukannya, “menjadi” dan “menikmati” Lebih baik dari “meminta” dan “menghakimi?” Bukannya “menghargai” dan “menjalani” Lebih baik dari “menghardik” dan “sok paham”? Bukannya menjadi teman bicara Lebih baik dari lawan bicara? ...